Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam kondisi stabil meski sejumlah tekanan eksternal terus membayangi pasar valuta asing.
Berdasarkan data Bloomberg per penutupan perdagangan hari ini, Rupiah ditutup pada level Rp 17.333 per US$, menunjukkan kestabilan relatif dibandingkan fluktuasi sebelumnya. Perry menjelaskan bahwa kestabilan ini tercapai berkat langkah-langkah kebijakan moneter dan koordinasi lintas institusi yang dilakukan BI.
“Nilai tukar Rupiah tetap stabil. Langkah-langkah yang kami ambil menjaga tingkat pelemahan Rupiah tetap sebanding dengan negara-negara emerging market lainnya,” ungkap Perry dalam konferensi pers terkait Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Perry juga menekankan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia saat ini tergolong kuat dan memadai untuk menjaga stabilitas moneter serta nilai tukar. Per Maret 2026, cadangan devisa tercatat sebesar US$ 148,2 miliar, cukup untuk menghadapi fluktuasi dan gejolak di pasar keuangan global. Ia menambahkan, hingga 30 April, aliran modal asing yang masuk ke Indonesia mencapai sekitar US$ 3,3 miliar, terutama melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), meskipun pada kuartal pertama sempat terjadi outflow sebesar US$ 1,7 miliar.
Untuk menjaga nilai tukar Rupiah tetap kuat, Perry mengungkapkan tujuh strategi utama yang diterapkan BI, yang juga telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.
- Intervensi Tunai di Pasar ValasBI akan terus melakukan intervensi langsung, baik melalui mekanisme Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun Non-Deliverable Forward (NDF), untuk meredam volatilitas Rupiah dan menjaga kestabilan pasar.
- Mendorong Masuknya Modal AsingPerry menekankan bahwa BI aktif mengupayakan aliran modal masuk ke Indonesia melalui instrumen SRBI, sehingga dapat meningkatkan likuiditas domestik sekaligus menstabilkan nilai tukar Rupiah.
- Koordinasi Pembelian SBN dari Pasar SekunderBI bekerjasama dengan Kementerian Keuangan untuk membeli SBN di pasar sekunder. Sejak awal tahun, BI telah membeli SBN senilai Rp 123,1 triliun, yang bertujuan menjaga keseimbangan likuiditas sekaligus mendukung pasar obligasi pemerintah.
- Menjaga Likuiditas Perbankan dan Pasar UangPertumbuhan uang primer di perbankan menunjukkan tren positif dengan angka 14,1% pada kuartal pertama. BI memastikan likuiditas di perbankan dan pasar uang tetap melimpah, sehingga transaksi keuangan berjalan lancar.
- Pembatasan Pembelian Dolar di Pasar DomestikUntuk menekan permintaan valas spekulatif, BI membatasi pembelian Dolar AS tanpa underlying assets. Awalnya batasnya US$ 100 ribu per bulan, kini diturunkan menjadi US$ 50 ribu, dan rencananya akan dipangkas lagi menjadi US$ 25 ribu per bulan.
- Penguatan Intervensi Pasar Offshore NDFSelain pasar domestik, BI juga mengendalikan nilai tukar di pasar offshore NDF untuk mencegah fluktuasi ekstrem yang terjadi di luar negeri.
- Pengawasan Intensif terhadap Bank dan KorporasiPerry menekankan pengawasan terhadap aktivitas pembelian Dolar AS oleh bank dan korporasi yang memiliki transaksi besar. Langkah ini penting untuk mencegah tekanan berlebih pada nilai tukar dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Perry menegaskan bahwa kombinasi dari tujuh strategi ini bertujuan tidak hanya menstabilkan Rupiah dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat fundamental ekonomi Indonesia di tengah tekanan global, termasuk kenaikan suku bunga AS, harga minyak yang tinggi, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Langkah-langkah ini memastikan Rupiah tetap berada dalam jalur yang sehat. Kami akan terus memantau kondisi global dan domestik agar stabilitas moneter dan nilai tukar tetap terjaga, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat dan korporasi,” tutup Perry.
Berita Menarik Lainnya :