Tampilkan postingan dengan label Bursa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bursa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juni 2026

Ramalan Terbaru Purbaya soal Pergerakan Rupiah

 

Ramalan terbaru Purbaya tentang pergerakan rupiah di tengah tekanan ekonomi global dan fluktuasi pasar.

Purbaya Ungkap Proyeksi Rupiah di Tengah Dinamika Ekonomi Global

Rupiah kembali menjadi topik yang banyak diperbincangkan pelaku pasar belakangan ini. Pergerakan mata uang Garuda tersebut terus dipantau di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Berbagai faktor global dan domestik masih memengaruhi pergerakan mata uang Garuda, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat hingga kondisi ekonomi dalam negeri yang terus berkembang.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, turut memberikan pandangannya mengenai arah pergerakan rupiah ke depan. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah masih mungkin terjadi dalam jangka pendek, namun kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap cukup kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena muncul di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Investor saat ini terus mencermati berbagai indikator ekonomi untuk menentukan langkah investasi mereka.

Faktor Global Masih Menjadi Penentu Utama

Kebijakan Suku Bunga The Fed

Salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap pergerakan rupiah adalah kebijakan moneter Amerika Serikat. Ketika suku bunga di Negeri Paman Sam berada pada level tinggi, investor cenderung menempatkan dananya pada aset-aset berbasis dolar AS yang dianggap lebih aman dan menguntungkan.

Kondisi tersebut sering kali menyebabkan arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat dan memberi tekanan pada mata uang lokal.

Menurut Purbaya, pasar masih menunggu sinyal yang lebih jelas terkait arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang. Selama ketidakpastian itu masih berlangsung, volatilitas di pasar valuta asing diperkirakan tetap terjadi.

Ketegangan Geopolitik dan Harga Komoditas

Selain faktor suku bunga, perkembangan geopolitik dunia juga ikut memengaruhi sentimen pasar. Konflik yang terjadi di sejumlah kawasan berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan komoditas global.

Indonesia sebagai negara yang memiliki hubungan perdagangan dengan banyak negara turut merasakan dampaknya. Perubahan harga komoditas global sering kali ikut memengaruhi neraca perdagangan Indonesia, sehingga berdampak pada stabilitas dan pergerakan nilai tukar rupiah.

Fundamental Ekonomi Indonesia Dinilai Tetap Solid

Cadangan Devisa Masih Kuat

Di tengah berbagai tekanan eksternal, Purbaya menilai Indonesia masih memiliki sejumlah modal penting untuk menjaga stabilitas ekonomi. Salah satunya adalah cadangan devisa yang berada pada level memadai.

Cadangan devisa berfungsi sebagai bantalan untuk menghadapi gejolak pasar keuangan. Dengan posisi yang kuat, Bank Indonesia memiliki ruang untuk melakukan langkah stabilisasi apabila diperlukan.

Pertumbuhan Ekonomi Relatif Terjaga

Pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap berada di zona positif juga menjadi faktor pendukung. Konsumsi domestik yang masih tumbuh dan aktivitas investasi yang terus berjalan memberikan sinyal bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh.

Kondisi tersebut dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang Indonesia. Kepercayaan pasar menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Daya Tahan Sektor Keuangan

Purbaya juga menyoroti kondisi sektor keuangan yang masih menunjukkan ketahanan. Ketahanan sektor perbankan dinilai masih cukup baik, ditopang oleh struktur permodalan yang solid dan likuiditas yang memadai.

Hal ini penting karena sektor keuangan yang sehat dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi ketika terjadi tekanan dari faktor eksternal.

Peluang Penguatan Rupiah Masih Terbuka

Didukung Arus Modal Asing

Meski menghadapi tantangan global, peluang penguatan rupiah tetap terbuka apabila sentimen pasar membaik. Masuknya kembali arus modal asing ke pasar obligasi maupun saham Indonesia dapat menjadi katalis positif bagi mata uang domestik.

Investor asing biasanya mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menanamkan modal, termasuk stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi, dan prospek keuntungan investasi.

Stabilitas Inflasi Menjadi Kunci

Inflasi yang terkendali juga berperan penting dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap rupiah. Ketika tingkat inflasi berada dalam target yang ditetapkan, daya beli masyarakat cenderung lebih stabil dan risiko ekonomi dapat ditekan.

Sinergi antara Bank Indonesia dan pemerintah dinilai menjadi salah satu kunci dalam menjaga kestabilan harga di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang.

Peran Kebijakan Pemerintah

Selain kebijakan moneter, langkah pemerintah dalam menjaga iklim investasi dan meningkatkan daya saing ekonomi juga menjadi faktor yang diperhatikan investor.

Program hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, serta berbagai insentif investasi diharapkan mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Apa yang Perlu Dicermati Pelaku Pasar?

Data Ekonomi Global

Dalam waktu dekat, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja. Data tersebut sering menjadi acuan bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneternya.

Perubahan ekspektasi pasar terhadap suku bunga dapat langsung memengaruhi pergerakan dolar AS dan berdampak pada rupiah.

Kebijakan Bank Indonesia

Langkah-langkah yang diambil Bank Indonesia juga akan menjadi perhatian utama. Kebijakan suku bunga, intervensi pasar valuta asing, hingga strategi menjaga likuiditas merupakan instrumen penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Respons Investor

Respons investor terhadap berbagai perkembangan ekonomi akan menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Sentimen positif dapat mendorong penguatan, sementara ketidakpastian global berpotensi menciptakan tekanan baru.

Prospek Rupiah ke Depan

Secara keseluruhan, ramalan terbaru Purbaya menunjukkan bahwa pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi berbagai faktor eksternal maupun domestik. Meski volatilitas diperkirakan tetap terjadi, fundamental ekonomi Indonesia dinilai cukup kuat untuk menjaga stabilitas dalam jangka menengah hingga panjang.

Dengan dukungan cadangan devisa yang memadai, pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, serta sektor keuangan yang solid, rupiah masih memiliki peluang untuk bergerak lebih positif apabila kondisi pasar global mulai membaik. Karena itu, pelaku usaha dan investor disarankan terus mencermati perkembangan ekonomi dunia sambil memperhatikan indikator domestik yang menjadi penopang utama perekonomian nasional.

SBY Soroti Penguatan Rupiah dan IHSG, Berharap Jadi Sinyal Positif bagi Ekonomi

SBY menyoroti penguatan rupiah dan kenaikan IHSG yang terjadi belakangan ini. Ia berharap kondisi tersebut menjadi sinyal positif yang dapat memperkuat kepercayaan pasar dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

SBY Soroti Penguatan Rupiah dan IHSG, Berharap Jadi Sinyal Positif bagi Ekonomi

Rupiah dan IHSG Menguat Jadi Perhatian

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyoroti perkembangan positif yang terjadi di pasar keuangan nasional dalam beberapa waktu terakhir. Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai sebagai perkembangan yang patut dicermati.

Menurut SBY, pergerakan positif pada dua indikator tersebut dapat menjadi sinyal yang menggembirakan bagi kondisi perekonomian nasional. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa optimisme tetap harus disertai kehati-hatian mengingat situasi ekonomi global masih menghadapi berbagai tantangan.

Saat rupiah menguat dan IHSG menunjukkan tren kenaikan, banyak investor melihatnya sebagai pertanda bahwa kepercayaan terhadap kondisi ekonomi Indonesia sedang berada dalam jalur yang positif. Karena itu, perkembangan tersebut menjadi perhatian banyak pihak, termasuk kalangan pengamat ekonomi dan investor.

Kepercayaan Pasar Dinilai Mulai Meningkat

SBY menilai bahwa penguatan yang terjadi tidak lepas dari berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri. Stabilitas ekonomi, kondisi politik yang relatif kondusif, serta sentimen positif dari pasar global dapat memberikan pengaruh terhadap pergerakan nilai tukar dan pasar saham.

Dalam pandangannya, meningkatnya kepercayaan pasar merupakan modal penting bagi perekonomian. Ketika investor melihat adanya stabilitas dan prospek yang baik, minat untuk menanamkan modal cenderung meningkat.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan dampak yang lebih luas, mulai dari bertambahnya investasi, terciptanya lapangan kerja, hingga meningkatnya aktivitas ekonomi di berbagai sektor.

Tantangan Ekonomi Global Masih Membayangi

Meski menyambut baik tren positif tersebut, SBY mengingatkan bahwa perekonomian dunia masih dihadapkan pada berbagai ketidakpastian. Konflik geopolitik, perlambatan ekonomi di sejumlah negara, hingga dinamika kebijakan moneter global masih berpotensi memengaruhi pasar keuangan.

Karena itu, ia berharap seluruh pemangku kepentingan dapat terus menjaga stabilitas ekonomi nasional agar momentum positif yang sudah mulai terlihat tidak mudah terganggu oleh faktor eksternal.

Menurutnya, ketahanan ekonomi menjadi salah satu kunci penting untuk menghadapi perubahan situasi global yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Harapan terhadap Perekonomian Nasional

SBY berharap penguatan rupiah dan kenaikan IHSG tidak hanya menjadi fenomena jangka pendek, tetapi dapat berlanjut dalam periode yang lebih panjang. Jika tren positif ini terus terjaga, dampaknya diharapkan dapat dirasakan oleh masyarakat secara lebih luas.

Selain meningkatkan kepercayaan investor, kondisi ekonomi yang stabil juga dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan sektor usaha. Dengan demikian, manfaat dari perkembangan positif di pasar keuangan dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Ia pun mengajak semua pihak untuk tetap optimistis terhadap masa depan ekonomi Indonesia sambil terus bekerja menjaga stabilitas dan memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Menjadi Sinyal yang Patut Dijaga

Penguatan rupiah dan kenaikan IHSG menjadi kabar yang memberi harapan di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi perekonomian global. Meski belum dapat dijadikan satu-satunya indikator keberhasilan ekonomi, perkembangan tersebut menunjukkan adanya sentimen positif yang muncul di pasar.

Harapan SBY agar kondisi ini menjadi pertanda baik bagi ekonomi Indonesia mencerminkan optimisme bahwa berbagai upaya menjaga stabilitas dan pertumbuhan mulai menunjukkan hasil. Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan momentum positif tersebut dapat terus dijaga dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.


Kamis, 14 Mei 2026

Keluhan Pengusaha China soal Regulasi Indonesia Direspons Purbaya Yudhi Sadewa

 
Purbaya Yudhi Sadewa merespons keluhan pengusaha China terkait regulasi investasi dan iklim usaha di Indonesia.

Keluhan sejumlah pengusaha asal China terkait regulasi dan iklim investasi di Indonesia kembali menjadi perhatian publik. Kritik tersebut muncul di tengah derasnya arus investasi asing yang masuk ke berbagai sektor strategis nasional, mulai dari industri hilirisasi, energi, manufaktur, hingga teknologi.

Menanggapi hal itu, Purbaya Yudhi Sadewa memberikan respons yang cukup tegas namun tetap diplomatis. Ia menekankan bahwa pemerintah terbuka terhadap masukan dari investor asing, termasuk dari China, tetapi seluruh kebijakan negara tetap harus berpijak pada kepentingan nasional.

Pernyataan tersebut langsung menjadi sorotan karena muncul di tengah meningkatnya hubungan ekonomi Indonesia dan China yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang sangat cepat.

Regulasi Indonesia Kembali Dipertanyakan Investor

Keluhan yang disampaikan sejumlah pelaku usaha China disebut berkaitan dengan beberapa persoalan klasik dalam dunia investasi Indonesia.

Mulai dari proses birokrasi yang dianggap rumit, perubahan regulasi yang dinilai terlalu cepat, hingga persoalan koordinasi antar lembaga yang terkadang dianggap belum sepenuhnya sinkron.

Bagi investor asing, stabilitas regulasi merupakan faktor penting sebelum menanamkan modal dalam jumlah besar.

Ketika aturan berubah terlalu sering atau proses administrasi berjalan lambat, risiko bisnis otomatis meningkat.

Karena itu, kritik dari pengusaha China sebenarnya mencerminkan kekhawatiran umum yang juga kerap disampaikan investor dari negara lain.

Indonesia Sedang Jadi Magnet Investasi

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia memang menjadi salah satu tujuan investasi terbesar di Asia Tenggara.

Cadangan sumber daya alam yang besar, pasar domestik luas, dan posisi strategis di kawasan membuat Indonesia memiliki daya tarik tinggi bagi investor global.

China termasuk salah satu negara dengan investasi besar di Indonesia, terutama pada sektor pertambangan, smelter, kendaraan listrik, hingga infrastruktur.

Kerja sama ekonomi kedua negara terus berkembang, terutama sejak pemerintah Indonesia mendorong agenda hilirisasi industri.

Namun semakin besar investasi yang masuk, semakin tinggi pula tuntutan terhadap kepastian hukum dan efisiensi regulasi.

Respons Purbaya Dinilai Punya Pesan Tegas

Dalam tanggapannya, Purbaya menegaskan pemerintah tidak anti kritik dan tetap membuka ruang dialog dengan investor.

Namun ia juga memberi sinyal bahwa Indonesia tidak bisa sepenuhnya mengikuti seluruh keinginan investor asing apabila bertentangan dengan arah kebijakan nasional.

Pernyataan tersebut dianggap penting karena menunjukkan posisi pemerintah yang ingin menjaga keseimbangan antara menarik investasi dan mempertahankan kedaulatan ekonomi.

Indonesia membutuhkan modal asing untuk mempercepat pembangunan, tetapi pemerintah juga tidak ingin seluruh kebijakan hanya berorientasi pada kepentingan investor.

Di sinilah tantangan besar muncul.

Kepentingan Nasional Jadi Kata Kunci

Salah satu poin penting dalam respons Purbaya adalah penegasan soal kepentingan nasional.

Pemerintah saat ini memang sedang berusaha membangun ekonomi yang lebih mandiri melalui hilirisasi dan penguatan industri domestik.

Karena itu, sejumlah regulasi dibuat bukan hanya untuk mempermudah investasi, tetapi juga memastikan nilai tambah ekonomi tetap berada di dalam negeri.

Bagi sebagian investor asing, kebijakan semacam itu terkadang dianggap membatasi fleksibilitas bisnis.

Namun dari sudut pandang pemerintah, langkah tersebut diperlukan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar atau pemasok bahan mentah semata.

Hubungan Indonesia dan China Sangat Strategis

Terlepas dari kritik yang muncul, hubungan ekonomi Indonesia dan China tetap berada dalam level yang sangat penting.

China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia dan memiliki pengaruh besar dalam berbagai proyek investasi strategis.

Karena itu, pemerintah kemungkinan akan tetap menjaga komunikasi agar polemik regulasi tidak berkembang menjadi ketegangan ekonomi yang lebih luas.

Di sisi lain, Indonesia juga berada dalam posisi yang lebih kuat dibanding beberapa tahun lalu.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dan potensi pasar besar, Indonesia kini memiliki daya tawar yang lebih tinggi dalam menghadapi investor asing.

Investor Butuh Kepastian, Pemerintah Butuh Kendali

Kasus ini memperlihatkan satu hal penting dalam dunia investasi modern: investor membutuhkan kepastian, sementara pemerintah membutuhkan kendali.

Jika regulasi terlalu longgar, negara berisiko kehilangan kontrol terhadap sumber daya dan kepentingan nasional.

Namun jika aturan terlalu rumit dan berubah-ubah, investor bisa kehilangan kepercayaan.

Menjaga keseimbangan di antara dua kepentingan tersebut bukan pekerjaan mudah.

Karena itu, respons Purbaya dinilai mencoba memberi pesan bahwa pemerintah siap mendengar kritik, tetapi tetap akan mempertahankan arah kebijakan strategis yang dianggap penting bagi masa depan ekonomi nasional.

Persaingan Investasi Regional Semakin Ketat

Indonesia saat ini tidak berdiri sendiri dalam perebutan investasi global. Negara-negara Asia Tenggara lain seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia juga terus berlomba menarik modal asing.

Dalam situasi seperti ini, efisiensi regulasi menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya saing.

Jika birokrasi dianggap terlalu lambat atau aturan sering berubah, investor bisa saja memindahkan proyek mereka ke negara lain yang dianggap lebih stabil.

Karena itu, kritik dari pengusaha China sebenarnya bisa menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah untuk memperbaiki sistem administrasi dan kepastian hukum.

Pemerintah Didorong Perkuat Reformasi Regulasi

Sejumlah pengamat menilai polemik ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kritik biasa, tetapi juga momentum untuk mempercepat reformasi birokrasi dan regulasi investasi.

Indonesia memang sudah melakukan berbagai pembenahan melalui digitalisasi perizinan dan penyederhanaan aturan.

Namun dalam praktik di lapangan, tantangan koordinasi antar lembaga dan implementasi kebijakan masih sering muncul.

Hal tersebut membuat proses investasi terkadang berjalan lebih lambat dibanding ekspektasi pelaku usaha.

Polemik yang Akan Terus Berlanjut

Hubungan antara pemerintah dan investor memang hampir selalu diwarnai tarik menarik kepentingan.

Investor ingin kepastian dan keuntungan bisnis, sementara negara harus memastikan pembangunan berjalan sesuai kepentingan rakyat dan ekonomi nasional.

Karena itu, polemik seperti ini kemungkinan akan terus muncul seiring meningkatnya investasi asing di Indonesia.

Namun yang paling penting adalah bagaimana pemerintah mampu menjaga keseimbangan antara keterbukaan ekonomi dan perlindungan kepentingan nasional.

Respons Purbaya Yudhi Sadewa menunjukkan bahwa pemerintah ingin tetap menjaga iklim investasi tanpa kehilangan arah strategis pembangunan nasional.

Di tengah persaingan ekonomi global yang semakin keras, kemampuan menjaga keseimbangan tersebut akan menjadi salah satu penentu masa depan ekonomi Indonesia.

Berita Menarik Lainnya : Faktor Utama di Balik Pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS

Jumat, 08 Mei 2026

Perry Warjiyo: Stabilitas Rupiah Terjaga Meski Ada Tekanan

 

Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam kondisi stabil meski sejumlah tekanan eksternal terus membayangi pasar valuta asing.

Berdasarkan data Bloomberg per penutupan perdagangan hari ini, Rupiah ditutup pada level Rp 17.333 per US$, menunjukkan kestabilan relatif dibandingkan fluktuasi sebelumnya. Perry menjelaskan bahwa kestabilan ini tercapai berkat langkah-langkah kebijakan moneter dan koordinasi lintas institusi yang dilakukan BI.

“Nilai tukar Rupiah tetap stabil. Langkah-langkah yang kami ambil menjaga tingkat pelemahan Rupiah tetap sebanding dengan negara-negara emerging market lainnya,” ungkap Perry dalam konferensi pers terkait Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Perry juga menekankan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia saat ini tergolong kuat dan memadai untuk menjaga stabilitas moneter serta nilai tukar. Per Maret 2026, cadangan devisa tercatat sebesar US$ 148,2 miliar, cukup untuk menghadapi fluktuasi dan gejolak di pasar keuangan global. Ia menambahkan, hingga 30 April, aliran modal asing yang masuk ke Indonesia mencapai sekitar US$ 3,3 miliar, terutama melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), meskipun pada kuartal pertama sempat terjadi outflow sebesar US$ 1,7 miliar.

Untuk menjaga nilai tukar Rupiah tetap kuat, Perry mengungkapkan tujuh strategi utama yang diterapkan BI, yang juga telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.

  1. Intervensi Tunai di Pasar Valas
    BI akan terus melakukan intervensi langsung, baik melalui mekanisme Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun Non-Deliverable Forward (NDF), untuk meredam volatilitas Rupiah dan menjaga kestabilan pasar.
  2. Mendorong Masuknya Modal Asing
    Perry menekankan bahwa BI aktif mengupayakan aliran modal masuk ke Indonesia melalui instrumen SRBI, sehingga dapat meningkatkan likuiditas domestik sekaligus menstabilkan nilai tukar Rupiah.
  3. Koordinasi Pembelian SBN dari Pasar Sekunder
    BI bekerjasama dengan Kementerian Keuangan untuk membeli SBN di pasar sekunder. Sejak awal tahun, BI telah membeli SBN senilai Rp 123,1 triliun, yang bertujuan menjaga keseimbangan likuiditas sekaligus mendukung pasar obligasi pemerintah.
  4. Menjaga Likuiditas Perbankan dan Pasar Uang
    Pertumbuhan uang primer di perbankan menunjukkan tren positif dengan angka 14,1% pada kuartal pertama. BI memastikan likuiditas di perbankan dan pasar uang tetap melimpah, sehingga transaksi keuangan berjalan lancar.
  5. Pembatasan Pembelian Dolar di Pasar Domestik
    Untuk menekan permintaan valas spekulatif, BI membatasi pembelian Dolar AS tanpa underlying assets. Awalnya batasnya US$ 100 ribu per bulan, kini diturunkan menjadi US$ 50 ribu, dan rencananya akan dipangkas lagi menjadi US$ 25 ribu per bulan.
  6. Penguatan Intervensi Pasar Offshore NDF
    Selain pasar domestik, BI juga mengendalikan nilai tukar di pasar offshore NDF untuk mencegah fluktuasi ekstrem yang terjadi di luar negeri.
  7. Pengawasan Intensif terhadap Bank dan Korporasi
    Perry menekankan pengawasan terhadap aktivitas pembelian Dolar AS oleh bank dan korporasi yang memiliki transaksi besar. Langkah ini penting untuk mencegah tekanan berlebih pada nilai tukar dan menjaga stabilitas sistem keuangan.

Perry menegaskan bahwa kombinasi dari tujuh strategi ini bertujuan tidak hanya menstabilkan Rupiah dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat fundamental ekonomi Indonesia di tengah tekanan global, termasuk kenaikan suku bunga AS, harga minyak yang tinggi, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Langkah-langkah ini memastikan Rupiah tetap berada dalam jalur yang sehat. Kami akan terus memantau kondisi global dan domestik agar stabilitas moneter dan nilai tukar tetap terjaga, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat dan korporasi,” tutup Perry.

Berita Menarik Lainnya :

Ibrahimovic Sindir Ronaldo, Sebut Ego Sang Kapten Jadi Beban bagi Portugal

Pernyataan pedas mantan striker Swedia, Zlatan Ibrahimovic , kembali menjadi sorotan publik sepak bola dunia. Kali ini, kritik tajamnya diar...