Jakarta – Seorang komandan senior Hizbullah dilaporkan tewas dalam serangan udara yang dilancarkan Israel di kawasan pinggiran selatan Beirut, Lebanon. Serangan ini menjadi perhatian karena merupakan yang pertama terjadi di wilayah tersebut dalam kurun waktu hampir satu bulan terakhir.
Berdasarkan laporan kantor berita AFP pada Rabu (6/5/2026), Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengonfirmasi bahwa operasi militer tersebut secara khusus menargetkan seorang komandan dari pasukan elit Radwan, unit tempur Hizbullah yang dikenal memiliki peran strategis dalam berbagai operasi militer kelompok tersebut.
Sumber yang memiliki kedekatan dengan Hizbullah, dan berbicara dengan syarat anonim, mengungkapkan bahwa sosok yang menjadi korban dalam serangan tersebut adalah Malek Ballout. Ia disebut menjabat sebagai komandan operasi di dalam struktur pasukan Radwan.
Sementara itu, kantor berita resmi Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan bahwa serangan udara dilakukan oleh jet tempur Israel yang menyasar kawasan Ghobeiri, yang terletak di pinggiran selatan Beirut. Wilayah tersebut diketahui merupakan salah satu basis utama Hizbullah di Lebanon.
Pantauan jurnalis AFP di lokasi menunjukkan adanya kepulan asap tebal yang membumbung tinggi dari titik serangan, menandakan dampak signifikan dari serangan udara tersebut terhadap area yang dihantam.
Sebelumnya, Beirut dan kawasan pinggiran selatannya relatif tidak menjadi sasaran langsung serangan sejak 8 April lalu. Pada tanggal tersebut, Israel melancarkan operasi militer berskala besar di sejumlah wilayah di Lebanon yang dilaporkan menewaskan lebih dari 350 orang.
Serangan terbaru ini terjadi di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks di kawasan Timur Tengah. Pada waktu yang hampir bersamaan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa terdapat “peluang yang sangat baik” untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran, yang merupakan sekutu utama Hizbullah.
Konflik antara Israel dan Hizbullah sendiri kembali memanas sejak awal Maret, ketika kelompok tersebut melancarkan serangan terhadap wilayah Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran. Aksi tersebut dinilai memperluas eskalasi konflik di kawasan, sekaligus menyeret Lebanon ke dalam ketegangan yang lebih luas di Timur Tengah.
Sejak pecahnya kembali konflik tersebut, serangan yang dilancarkan Israel di wilayah Lebanon dilaporkan telah menyebabkan lebih dari 2.700 orang meninggal dunia. Selain itu, dampak kemanusiaan juga cukup besar dengan lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka, terutama dari wilayah selatan, timur Lebanon, serta kawasan pinggiran selatan Beirut.
Meskipun gencatan senjata sempat diberlakukan pada 17 April, situasi di lapangan masih belum sepenuhnya stabil. Israel dilaporkan masih kerap melakukan serangan udara, khususnya ke wilayah selatan Lebanon. Di sisi lain, Hizbullah juga terus melakukan serangan balasan yang menargetkan posisi militer Israel.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa ketegangan di kawasan masih jauh dari mereda, meskipun upaya diplomasi terus diupayakan oleh berbagai pihak.
Berita Menarik Lainnya :
Serangan Israel di Lebanon Saat Gencatan Senjata, 9 Tewas Termasuk 2 Anak