podomoro89 podomoro89 podomoro89 podomoro89 podomoro89 podomoro89 slot gacor Startup Kembangkan Pusat Data AI di Laut, Manfaatkan Energi Ombak

Startup Kembangkan Pusat Data AI di Laut, Manfaatkan Energi Ombak

 

Upaya memindahkan infrastruktur teknologi ke lingkungan yang lebih efisien energi kini mulai mengarah ke wilayah yang tak biasa: lautan lepas. Sebuah perusahaan rintisan bernama Panthalassa tengah mengembangkan konsep pusat data kecerdasan buatan (AI) yang beroperasi sepenuhnya di tengah samudra, memanfaatkan energi ombak sebagai sumber listrik utama.

Gagasan ini muncul dari kebutuhan akan solusi energi yang lebih berkelanjutan di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi global, khususnya untuk teknologi AI yang dikenal sangat boros daya. Panthalassa melihat laut sebagai sumber energi yang belum dimanfaatkan secara maksimal, sekaligus lokasi yang menawarkan keuntungan alami dalam hal pendinginan sistem.

Keyakinan terhadap potensi tersebut menarik minat investor besar. Perusahaan ini berhasil memperoleh pendanaan Seri B senilai USD 140 juta atau sekitar Rp 2,2 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan prototipe menjadi produk komersial yang siap diterapkan dalam skala lebih luas.

Secara konsep, teknologi yang dikembangkan Panthalassa cukup sederhana namun inovatif. Energi dihasilkan langsung dari pergerakan ombak, kemudian digunakan secara langsung di lokasi tanpa perlu ditransmisikan ke daratan. Dengan pendekatan ini, perusahaan menghindari kompleksitas infrastruktur jaringan listrik yang biasanya menjadi tantangan utama dalam proyek energi lepas pantai.

Untuk merealisasikan konsep tersebut, Panthalassa menciptakan unit mandiri yang disebut sebagai “nodes”. Struktur ini berupa platform berbahan baja yang sebagian besar berada di bawah permukaan laut. Nodes dirancang untuk bergerak naik turun mengikuti gelombang, memanfaatkan gerakan alami laut sebagai sumber energi mekanis.

Gerakan vertikal tersebut digunakan untuk menggerakkan sistem turbin internal yang menghasilkan listrik melalui mekanisme siklus tertutup. Energi yang dihasilkan tidak disalurkan ke daratan, melainkan langsung digunakan untuk mengoperasikan perangkat komputasi yang berada di dalam unit tersebut.

Setiap nodes dilengkapi dengan modul komputasi yang disimpan dalam kapsul tertutup dan terlindungi. Sistem ini memungkinkan chip AI bekerja langsung di lokasi, tanpa bergantung pada jaringan listrik eksternal. Setelah proses komputasi selesai, hasilnya dikirim ke daratan menggunakan koneksi internet berbasis satelit, seperti jaringan komunikasi orbit rendah.

Pendekatan ini dinilai sebagai terobosan karena menggabungkan pembangkitan energi dan pemanfaatannya dalam satu sistem terintegrasi. CEO sekaligus pendiri Panthalassa, Garth Sheldon-Coulson, menegaskan bahwa kunci utama dari konsep ini adalah penggunaan energi di tempat, tanpa kebutuhan distribusi ke darat.

Ia menyebut bahwa sebagian besar proyek energi laut sebelumnya gagal berkembang karena fokus pada penyaluran listrik ke daratan, yang memerlukan infrastruktur mahal dan kompleks. Dengan menghilangkan kebutuhan tersebut, Panthalassa berharap dapat menciptakan sistem yang lebih efisien dan ekonomis.

Dari sisi desain, nodes dikembangkan dengan pendekatan yang menekankan ketahanan dan kesederhanaan. Struktur dibuat tanpa komponen mekanis kompleks seperti engsel atau gearbox eksternal, sehingga mampu mengurangi potensi kerusakan akibat tekanan dan benturan gelombang laut. Hal ini juga memungkinkan proses produksi dilakukan secara massal menggunakan material standar.

Selain itu, lingkungan laut dimanfaatkan sebagai sistem pendingin alami. Air laut berfungsi sebagai penyerap panas yang efektif, menjaga suhu perangkat tetap stabil tanpa memerlukan sistem pendingin tambahan yang biasanya memakan banyak energi di pusat data konvensional.

Proses perakitan unit juga dirancang efisien. Nodes dibangun di fasilitas pesisir, kemudian ditarik dalam posisi horizontal menuju lokasi operasional di laut dalam. Setelah tiba, struktur ditegakkan dan mulai beroperasi dengan memanfaatkan energi ombak sebagai penggerak utama, tanpa mesin tambahan.

Proyek ini mendapat dukungan dari sejumlah tokoh besar di industri teknologi dan investasi. Beberapa di antaranya adalah Peter Thiel, Marc Benioff melalui TIME Ventures, serta Max Levchin dari SciFi Ventures. Dukungan tersebut menjadi indikator kuat bahwa konsep ini dinilai memiliki potensi besar di masa depan.

Saat ini, Panthalassa tengah menyelesaikan fasilitas manufaktur percontohan di wilayah dekat Portland, Oregon. Setelah sebelumnya menguji beberapa prototipe awal seperti Ocean-1, Ocean-2, dan Wavehopper, perusahaan kini bersiap meluncurkan generasi berikutnya, Ocean-3, di kawasan Pasifik Utara pada tahun 2026. Target komersialisasi skala penuh direncanakan mulai tahun 2027.

Sheldon-Coulson juga menyoroti bahwa energi ombak pada dasarnya merupakan bentuk energi matahari yang tersimpan. Gelombang laut terbentuk dari interaksi angin dan panas matahari, sehingga mampu menyediakan energi secara kontinu bahkan ketika kondisi cuaca berubah.

Menurutnya, karakteristik tersebut menjadikan ombak sebagai sumber energi yang stabil dan dapat diandalkan sepanjang waktu. Dengan memanfaatkan potensi ini, Panthalassa berharap dapat menghadirkan solusi baru dalam penyediaan energi untuk kebutuhan komputasi modern yang terus meningkat.

Jika berhasil, konsep pusat data berbasis laut ini berpotensi mengubah cara industri teknologi membangun dan mengoperasikan infrastruktur digital di masa depan.

Berita Menarik Lainnya : 

Aksi Teror ke Kediaman Sam Altman Picu Sorotan atas Gerakan Anti-AI

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama